Home » , , » Pantaskah Selfie di Tengah Musibah Masjidil Haram?

Pantaskah Selfie di Tengah Musibah Masjidil Haram?

Written By Chindy Lee on Monday, September 14, 2015 | 10:09 PM

http://sakuratoto.com/home/register/94642614339

Di tengah duka yang mendalam atas musibah yang menimpa jamaah haji Indonesia dan seluruh dunia. Tetap saja ada yang kurang empati, seperti  sepasang jemaah yang diduga asal Indonesia tertangkap kamera sedang menjepret foto "selfie" di lokasi musibah crane roboh di Masjidil Haram.

Pasangan yang diduga merupakan jemaah haji asal Indonesia ini tertangkap kamera sedang berfoto dengan latar belakang crane yang ambruk, dibantu orang ketiga yang mengambil gambar dengan ponsel QWERTY serupa BlackBerry.

Hal ini dilaporkan menuai reaksi dari netizen yang menilai pasangan tersebut melakukan tindakan kurang sensitif di tengah situasi berduka.

Tak diketahui apakah ada orang lain yang turut menjepret selfie di lokasi kejadian. Jatuhnya crane pada Jumat lalu disinyalir merupakan akibat badai kencang dan hujan lebat yang tengah melanda.

Mesin derek yang roboh merupakan salah satu dari sejumlah mesin serupa yang menjulur ke angkasa di sekitar Masjidil haram untuk mengerjakan proyek perluasan dan renovasi masjid suci tersebut.

Kondisi tempat kejadian ketika itu yang dipenuhi jemaah menjelang shalat maghrib mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas, termasuk 10 orang dari Indonesia. Sementara 238 lainnya menderita luka-luka.

Alih-alih disambut dengan senyuman, foto diri alias seflie memang bisa mengundang kecaman apabila dilakukan dalam situasi yang dianggap kurang pantas atau melanggar etika umum soal perilaku.

Perihal etika ini berbeda dari tindakan selfie yang membahayakan jiwa diri sendiri atau orang lain, semisal menjepret selfie di tempat berbahaya atau di dekat binatang buas.

Memang tidak ada ketentuan tertulis yang disepakati bersama, yang memisahkan dengan jelas antara situasi-situasi di mana pengambilan selfie bisa diterima atau tidak.

Namun, ada baiknya untuk mempertimbangkan nilai moral dan empati dari situasi yang tergambar dari sebuah frame selfie. Suatu hal yang bisa diterima oleh sebagian orang belum tentu bisa diterima oleh orang lain.

Apalagi, begitu ditaruh di internet (melalui social media, misalnya), sebuah foto akan menjadi konsumsi orang banyak. Publik pun bisa dengan bebas menyatakan pendapat, entah bersifat pro atau kontra.

Ini berpotensi mendatangkan hal tidak mengenakkan buat pengambil selfie, apabila tindakannya dipandang tak pantas.

Ambillah contoh foto selfie yang dijepret seorang dokter di Kuala Lumpur, Malaysia, saat hendak melakukan operasi terhadap pasien di meja bedah.

Tindakan yang -dalam pikiran dokter tersebut- mungkin sah-sah saja ternyata menjadi viral dan membuahkan hujan kecaman. Nama sang pelaku selfie pun rusak dan ia terancam dipecat.

Secara umum, situasi berduka, atau yang berpotensi melanggar privasi sebaiknya disikapi dengan hati-hati oleh para pengambil selfie. Pikir-pikirlah dulu sebelum sebelum bergaya di depan kamera dan menekan tombol shutter.


www.sakuratoto.com
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Sylvia Goh | Toto Solid Prediksi | Syair Sakuratoto
Copyright © 2011. Berita Hangat Terkini - All Rights Reserved
Template Created by Sylvia Goh Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger